KARNAMEREKA RILIS SINGLE BARU BERJUDUL ‘NESTAPA DI PENGHUJUNG SENJA AJAK PENDENGAR BERDAMAI DENGAN KESEDIHAN
KARNAMEREKA kembali melanjutkan perjalanan musikalnya melalui single terbaru berjudul Nestapa Di Penghujung Senja. Lagu tersebut telah dirilis sejak Rabu, 3 Juni 2026 melalui berbagai Digital Streaming Platform (DSP) dan video lirik yang tayang di kanal YouTube resmi KARNAMEREKA.
Diciptakan oleh Herida Bar’is Seto alias Hero Herda, Nestapa Di Penghujung Senja mengangkat kisah seseorang yang sedang berada dalam fase berat kehidupan. Lagu ini berbicara tentang kelelahan, kesedihan, dan perjuangan menghadapi berbagai tekanan yang datang silih berganti.
“Lagu ini mengajak pendengarnya untuk menerima kesedihan, tidak berpura-pura kuat, serta tetap bersabar karena harapan dan kebahagiaan akan datang setelah masa-masa berat berlalu,” ujar Hero Herda.
Di balik nuansa sendunya, lagu ini membawa pesan yang hangat dan penuh harapan. KARNAMEREKA ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk menangis dan tidak harus selalu terlihat kuat di hadapan orang lain.
“Kesedihan adalah bagian dari perjalanan hidup yang perlu diterima. Tidak semua orang harus terus-menerus terlihat baik-baik saja. Kadang kita hanya perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan semuanya,” lanjut Hero Herda.
Proses Kreatif yang Tetap Dikerjakan Secara Mandiri
Proses penciptaan Nestapa Di Penghujung Senja diawali dari Hero Herda yang menulis lirik sekaligus merancang melodi dasar lagu. Setelah itu, seluruh personel berdiskusi untuk menentukan benang merah aransemen yang paling tepat dalam menerjemahkan emosi yang ingin disampaikan.
“Kami bertiga sudah terbiasa merancang lagu dengan ritme kerja masing-masing. Ketika pola dasarnya sudah jadi, bentuk akhir lagunya biasanya cepat terbentuk saat kami bertemu di studio,” jelas Hero Herda.
Tahap produksi kemudian dilanjutkan dengan rekaman instrumen yang melibatkan Hero Herda, Rolan, dan Candra. Sementara proses mixing dan mastering dikerjakan oleh Bayu Sensen di BMD Music Studio.
Evolusi KARNAMEREKA dalam Balutan Medium Beat
Single ini melanjutkan warna musikal yang mulai terasa sejak lagu-lagu seperti Titik Nadir dan Di Persimpangan. Jika dahulu KARNAMEREKA identik dengan energi cepat dan agresif khas pop punk, kini mereka semakin nyaman mengeksplorasi tempo medium yang memberikan ruang lebih luas untuk bercerita dan menyampaikan emosi.
Menurut KARNAMEREKA, perubahan tersebut terjadi secara alami seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup para personel.
“Kami merasa cara menyampaikan emosi juga ikut berkembang. Medium beat memberi ruang agar pendengar bisa lebih masuk ke cerita dan rasa yang ada di dalam lagu tanpa menghilangkan identitas pop punk yang sudah melekat di KARNAMEREKA,” ujar Candra.
Meski terus membuka diri terhadap eksplorasi musikal, KARNAMEREKA menegaskan bahwa pop punk akan tetap menjadi fondasi utama dalam setiap karya mereka.
“Pop punk sudah menjadi bagian dari identitas dan perjalanan kami sejak awal. Bagi kami, pop punk bukan sekadar tempo cepat atau distorsi gitar, tetapi juga tentang kejujuran, semangat, dan emosi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Warna musik kami mungkin akan terus berkembang, tetapi jiwa pop punk itu akan tetap ada,” ungkap Rolan.
Dengan Nestapa Di Penghujung Senja, KARNAMEREKA kembali menunjukkan bahwa musik pop punk tidak selalu harus disampaikan dengan ledakan energi. Terkadang, pesan yang paling kuat justru lahir dari keberanian untuk mengakui rasa lelah, menerima kesedihan, dan tetap melangkah menuju harapan.
Konsisten Mengusung Pop Punk dan Menyiapkan Kolaborasi Baru
Meski telah berkarya selama 15 tahun, KARNAMEREKA mengaku masih menikmati proses merilis karya secara bertahap. Setelah merilis album pada tahun lalu, mereka belum memiliki rencana untuk kembali menggarap album baru dalam waktu dekat.
“Dalam waktu dekat, kami sedang menyiapkan beberapa kolaborasi baru dengan musisi dan band lain, melanjutkan semangat kolaboratif yang sebelumnya pernah kami bangun bersama Ndarboy Genk,” kata Hero Herda.
KARNAMEREKA juga menegaskan bahwa pop punk akan selalu menjadi rumah bagi mereka, meskipun tetap terbuka terhadap berbagai kemungkinan musikal di masa mendatang.
“Kami percaya musik harus terus berkembang. Karena itu, kami tidak menutup diri terhadap eksplorasi dan kemungkinan-kemungkinan baru. Kami ingin terus bertumbuh sebagai musisi tanpa kehilangan identitas yang membuat KARNAMEREKA dikenal hingga hari ini. Warna musiknya boleh berubah dan berkembang, tetapi jiwa pop punk-nya akan tetap ada,” tutup Rolan.
Sekadar diketahui, KARNAMEREKA merupakan grup pop punk asal Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terbentuk pada 2010. Band ini beranggotakan Hero Herda (vokal/gitar), Rolan Putut Wijaya (drum), dan Candra Setia Budi (bass).
Selama 15 tahun berkarya, KARNAMEREKA telah merilis tiga album studio dan satu album live. Nama mereka semakin dikenal secara nasional setelah lagu Ayah Ibu meledak pada 2022 dan menjadi viral di berbagai platform media sosial.





Leave a Reply