Hallimun Rilis EP “Into the Death”, Unit Doom Metal Asal Sukabumi Hadirkan Atmosfer Kelam dalam Lima Track
Sukabumi – Dari hamparan pegunungan di barat Pulau Jawa, lahirlah Hallimun, sebuah unit musik asal Sukabumi yang mengusung lanskap suara kelam melalui perpaduan doom metal, sentuhan black metal, dan nuansa atmosferik yang pekat. Setelah beberapa tahun aktif mengisi berbagai panggung independen, Hallimun akhirnya menegaskan identitas musikalnya lewat perilisan EP perdana bertajuk “Into the Death” pada 2026.
Nama Hallimun diambil dari kata “halimun”, istilah dalam bahasa Sunda yang berarti kabut tipis yang perlahan turun dari lereng gunung menuju lembah. Filosofi tersebut menjadi gambaran yang tepat untuk karakter musik mereka: tidak hadir dengan ledakan yang tiba-tiba, melainkan merayap perlahan, membangun atmosfer yang dingin, gelap, dan menghantui.
Hallimun Tawarkan Perpaduan Doom Metal dan Sentuhan Black Metal
Hallimun digawangi oleh Adit (gitar), Bayu (gitar), Apri (bass), dan Angga (drum). Alih-alih membatasi diri dalam satu formula, mereka memilih membiarkan musik berkembang secara organik.
Karakter Hallimun dibangun melalui riff gitar yang mengawang dengan balutan fuzz, lapisan shimmer yang menciptakan atmosfer khas doom metal, serta sentuhan kelam dari black metal. Hasilnya adalah komposisi yang lambat, berat, sekaligus emosional, membawa pendengar memasuki ruang sonik yang pekat dan penuh kontemplasi.
Pendekatan tersebut menjadikan Hallimun sebagai salah satu nama yang menawarkan warna berbeda di skena musik ekstrem Indonesia.
Aktif Sejak 2019, Hallimun Telah Menjelajahi Berbagai Panggung
Sebelum merilis karya resmi, Hallimun telah lebih dulu membangun reputasi melalui berbagai penampilan sejak tahun 2019.
Mereka tampil di sejumlah gigs independen di berbagai kota seperti Jakarta, Bekasi, dan Cianjur, serta beberapa pertunjukan lintas disiplin dalam program-program pameran seni. Pengalaman tersebut membentuk karakter musikal Hallimun yang tidak hanya kuat di atas panggung musik, tetapi juga mampu menyatu dengan berbagai medium ekspresi artistik.

“Into the Death”, EP Perdana Hallimun yang Dirilis Bersama Ears Pollution Record
Perjalanan tersebut akhirnya bermuara pada perilisan EP “Into the Death”, yang direkam sekaligus diproduksi oleh Ears Pollution Record.
Mini album ini berisi lima komposisi yang menjadi representasi penuh dari identitas musikal Hallimun, yaitu:
- In Satana Fiden Habemus
- Into the Otherside
- Hitam Kelam
- Arvakur
- Harm on Iasai
Kelima lagu tersebut dirangkai dalam satu kesatuan atmosfer yang konsisten, mengajak pendengar menyelami nuansa gelap tanpa harus bergantung pada perubahan yang drastis di setiap trek.
“Into the Death” Hadir sebagai Sebuah Perjalanan Atmosfer
Jangan berharap menemukan perbedaan yang mencolok di setiap lagu dalam “Into the Death”. Seperti makna nama yang mereka usung, Hallimun memilih bergerak perlahan.
Alih-alih mengejutkan dengan perubahan ekstrem, mereka membangun pengalaman mendengarkan secara bertahap. Setiap lagu menyambung satu sama lain, menciptakan lanskap suara yang terasa seperti kabut yang perlahan menyelimuti pegunungan—sunyi, dingin, namun tetap menyimpan kekuatan yang besar.
Pendekatan tersebut justru menjadi daya tarik utama Hallimun. Mereka tidak menawarkan agresivitas semata, melainkan suasana yang mengendap dan terus menghantui setelah musik berhenti dimainkan.
Hallimun Perkenalkan Definisi Baru tentang Warna Hitam dalam Doom Metal
Melalui “Into the Death”, Hallimun memperlihatkan bahwa musik ekstrem tidak selalu harus hadir dengan ledakan energi. Mereka memilih menghadirkan kegelapan sebagai atmosfer yang perlahan merasuk, menawarkan rasa dingin sebagai interpretasi baru dari warna hitam.
Dengan perpaduan riff yang berat, lapisan ambience yang luas, serta sentuhan black metal yang subtil, Hallimun berhasil membangun identitas yang kuat di antara gelombang musik doom Indonesia.
Bagi penikmat doom metal, atmospheric metal, hingga blackened doom, “Into the Death” menjadi rilisan yang layak disimak. EP ini bukan sekadar kumpulan lima lagu, tetapi sebuah perjalanan sonik yang mengajak pendengar tenggelam ke dalam kabut, menuju ruang-ruang gelap yang sunyi dan penuh perenungan.





Leave a Reply