The Jansen Tutup Trilogi Lewat Album Romantisasi Impulsif, Kisah Cinta yang Terasa Seperti Sebuah Film
The Jansen kembali menghadirkan kejutan bagi para pendengarnya. Band asal Bogor ini resmi mengumumkan album kelima bertajuk Romantisasi Impulsif, sebuah karya yang sekaligus menjadi penutup trilogi yang telah dimulai melalui Banal Semakin Binal (2022) dan berlanjut di Durja Bersahaja (2024). Berbeda dari album-album sebelumnya, Romantisasi Impulsif hadir dengan pendekatan naratif yang terasa seperti sebuah film, menghadirkan kisah cinta, kritik sosial, hingga eksplorasi musikal yang lebih luas.
Perjalanan Panjang The Jansen Menuju Romantisasi Impulsif
Perjalanan The Jansen bukanlah cerita yang dimulai kemarin. Sejak merilis EP debut From Bogor to Japan pada 2016, mereka terus berkembang menjadi salah satu band independen paling berpengaruh di Indonesia. Setelah merilis album Present Continuous (2017), Say Say Say (2019), hingga Banal Semakin Binal yang melambungkan nama mereka ke khalayak luas, The Jansen terus menunjukkan keberanian untuk bereksperimen tanpa kehilangan identitasnya.
Kini, dengan formasi yang digawangi Cintarama Bani Satria (Tata) dan Adji Pamungkas, mereka kembali menawarkan pengalaman mendengarkan yang berbeda melalui album berisi 12 lagu ini.
Album The Jansen yang Terasa Seperti Sebuah Film
Salah satu keunikan utama Romantisasi Impulsif adalah konsep ceritanya. Album ini tidak hanya menghadirkan kumpulan lagu, tetapi juga membangun sebuah narasi utuh layaknya film dengan alur, konflik, klimaks, hingga penutup.
Tokoh utama dalam album ini adalah Johan dan Marni, dua insan yang saling mencintai di tengah himpitan kondisi sosial dan ekonomi. Johan adalah anak orang kaya yang jatuh miskin, sementara Marni telah lama hidup dalam keterbatasan. Kisah mereka bukan sekadar romansa, melainkan potret tentang perjuangan menghadapi sistem yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat kecil.
Melalui cerita tersebut, The Jansen menyampaikan refleksi mengenai kehidupan yang dipenuhi kata “jika”, “bila”, dan “andai”, tiga kata sederhana yang menjadi benang merah keseluruhan album.
Mengangkat Isu Sosial Lewat Musik
Di balik kisah Johan dan Marni, Romantisasi Impulsif membawa kritik terhadap berbagai persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Album ini menggambarkan bagaimana kemiskinan, birokrasi, hingga kebijakan publik dapat memengaruhi kehidupan seseorang.
Pendekatan tersebut membuat album ini terasa lebih seperti sebuah karya sinematik dibanding sekadar rilisan musik. Bahkan, The Jansen mengungkapkan harapannya agar suatu hari nanti album ini dapat diadaptasi menjadi film layar lebar karena seluruh lagu telah memiliki alur cerita yang saling berkaitan.

Eksplorasi Musik Paling Berani dari The Jansen
Selain konsep cerita yang kuat, Romantisasi Impulsif juga menawarkan warna musikal baru.
Jika Durja Bersahaja dikenal dengan nuansa lo-fi yang gelap, album terbaru ini justru memadukan berbagai pengaruh musik dunia. Pendengar akan menemukan sentuhan musik Arab, gitar flamenco khas Spanyol, hingga skala musik Tionghoa yang dipadukan dengan karakter khas The Jansen berupa gitar penuh fuzz, chorus, reverb, dan vokal Tata yang atmosferik.
Hasilnya adalah sebuah album yang terdengar segar sekaligus tetap mempertahankan identitas musikal The Jansen.
Digarap Selama Bertahun-tahun
Proses kreatif album ini bukanlah pekerjaan singkat. Penulisan lirik telah dimulai sejak 2022 setelah perilisan Banal Semakin Binal. Seluruh komposisi musik kemudian disusun oleh Tata dan Adji sebelum memasuki tahap rekaman pada 2025 di markas mereka, Jansen HQ.
Album ini juga melibatkan sejumlah musisi pendukung seperti Daryl Gema pada drum, S Yonatan di gitar kedua, Andreas Yendra pada gitar akustik, serta Ayu Muthia Zahra yang mengisi tambourine dan backing vocal. Proses mixing dilakukan di Dune Audio, sementara mastering dikerjakan di North London Bomb Factory Mastering.
Single “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)” Jadi Pembuka Album
Sebagai pengantar menuju album penuh, The Jansen lebih dulu merilis single “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)” pada 29 April 2026.
Sementara itu, album Romantisasi Impulsif dijadwalkan tersedia di seluruh platform digital mulai 22 Juli 2026. Untuk rilisan fisik, CD dan vinyl akan diterbitkan oleh P-Vine Records asal Jepang, sedangkan edisi kaset dirilis melalui Miles Records dari Malaysia.
Babak Baru The Jansen Dimulai
Melalui Romantisasi Impulsif, The Jansen kembali membuktikan bahwa mereka bukan hanya band punk yang piawai membuat lagu-lagu mudah diingat, tetapi juga mampu menghadirkan karya konseptual dengan narasi yang kuat dan relevan.
Album ini menjadi penutup trilogi yang telah mereka bangun selama beberapa tahun terakhir sekaligus menandai babak baru perjalanan kreatif The Jansen. Setelah trilogi ini berakhir, mereka mengaku belum mengetahui arah karya berikutnya. Namun, justru ketidakpastian itulah yang selalu menjadi ruang eksplorasi bagi The Jansen untuk terus melahirkan kejutan baru bagi para pendengarnya.




Leave a Reply